Depok, Indonesia Publik.id– Berawal dari hobi mengoleksi benda-benda bersejarah, Kassah Hakim, mantan wartawan yang juga dikenal sebagai seniman lukis kontemporer, kini menekuni bisnis jual beli barang antik.
Di tengah lesunya pasar koleksi, ia tetap bertahan dengan menyimpan lebih dari seribu benda antik yang sebagian besar berasal dari peradaban Tiongkok.
Keramik Dinasti Tiongkok, tembikar kuno, koin berbagai negara, uang kertas lawas, radio klasik, hingga buku-buku tua menjadi bagian dari koleksi yang selama bertahun-tahun ia kumpulkan.

Baginya, setiap benda antik bukan sekadar barang koleksi, melainkan memiliki nilai sejarah, budaya, dan seni yang tinggi.
Kassah menuturkan, ketertarikannya terhadap barang antik sudah muncul sejak masih menempuh pendidikan di bangku kuliah. Sebagai seorang pelukis, ia terbiasa mengapresiasi karya seni dan benda-benda yang memiliki nilai estetika serta jejak sejarah.
“Sejak muda saya memang menyukai barang-barang lama, mulai dari mesin ketik kuno, sepeda onthel peninggalan Belanda, Vespa dan Lambretta klasik, hingga keramik kuno. Lama-kelamaan koleksinya semakin banyak,” ujarnya saat ditemui di tokonya di Pasar Segar Cinere.
Menurut Kassah, usaha yang kini dijalaninya lahir bukan karena direncanakan sejak awal. Pandemi COVID-19 yang berdampak pada pekerjaan dan aktivitas usahanya justru menjadi titik balik untuk menjadikan koleksi pribadinya sebagai sumber penghasilan.
“Daripada hanya tersimpan di rumah, saya berpikir koleksi ini lebih baik dijadikan usaha. Dari situlah saya mulai membuka toko barang antik,” katanya.
Berawal dari Dunia Jurnalistik
Sebelum dikenal sebagai pedagang barang antik, Kassah lebih dahulu meniti karier di dunia jurnalistik.
Ia memulai profesinya sebagai wartawan pada pertengahan 1990-an dengan menjalani magang di sebuah tabloid otomotif di bawah Gramedia Group. Kariernya kemudian berlanjut bersama Bali Post Group hingga tahun 2010.
Setelah mengakhiri karier sebagai jurnalis, Kassah tetap menyalurkan hobinya berburu benda-benda antik dari berbagai daerah.
Kini koleksinya diperkirakan mencapai lebih dari seribu item yang terdiri atas keramik Dinasti Tiongkok, tembikar kuno, mata uang logam dan kertas dari berbagai negara, radio klasik, hingga aneka benda koleksi lainnya.
Sempat Terpukul Kebakaran Mal
Perjalanan bisnis Kassah tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah membuka galeri barang antik di sebuah pusat perbelanjaan. Namun, musibah kebakaran yang melanda mal tersebut membuat jumlah pengunjung menurun drastis.
Meski tokonya tidak terdampak langsung oleh kobaran api, kondisi itu membuat aktivitas perdagangan ikut lesu, akhirnya ia memutuskan memindahkan tokonya ke lokasi yang dinilai memiliki potensi pengunjung lebih baik.
Pasar Barang Antik Masih Lesu
Kassah mengakui, perdagangan barang antik saat ini belum kembali bergairah, selain daya beli masyarakat yang masih rendah, persaingan dengan pembeli luar negeri juga menjadi tantangan tersendiri.
Menurutnya, banyak kolektor asing datang langsung ke daerah untuk membeli barang dari sumbernya sehingga harga di tingkat pedagang lokal semakin kompetitif.
Di sisi lain, ia menilai masih ada pedagang yang menjual koleksinya di bawah harga pasar sehingga mempengaruhi nilai jual barang antik secara keseluruhan.
“Kadang ada barang yang nilainya tinggi, tetapi ditawar jauh di bawah harga yang seharusnya. Kondisi seperti ini membuat banyak pedagang terpaksa menjual demi menjaga kelangsungan usaha,” tuturnya.
Optimistis Nilai Barang Antik Akan Terus Meningkat
Meski menghadapi berbagai tantangan, Kassa tetap optimistis masa depan bisnis barang antik akan kembali cerah.
Menurutnya, berbeda dengan produk konsumsi, benda antik tidak memiliki masa kedaluwarsa dan justru dapat mengalami kenaikan nilai seiring berjalannya waktu.
Karena itu, koleksi-koleksi terbaik tidak seluruhnya dipajang di toko.
Barang dengan nilai sejarah tinggi hanya diperlihatkan kepada kolektor yang benar-benar berminat dan serius untuk memilikinya.
Ia berharap kondisi ekonomi nasional segera membaik sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat dan pasar barang antik kembali bergairah.
“Barang antik adalah warisan sejarah yang nilainya tidak akan hilang.
Saya percaya ketika ekonomi membaik, minat masyarakat dan kolektor terhadap barang antik akan kembali tumbuh,” pungkas Kassah Hakim. (Nas)***

